Mengapa Yesus harus mati ?
Untuk masa menjelang Good Friday dan Paskah 2008 ini saya akan mengisi artikel ini dengan bahan-bahan yang berkenaan dengan kematian dan kebangkitan Kristus dan nanti akan menyambung kembali pokok tentang gereja. Harap maklum.
Artikel: 'Pandangan orang Kristen mula-mula tentang kematian Yesus'.
Menjelang ‘good Friday’ dan ‘Paskah’ saya akan menginterupsi pokok artikel mengenai ‘pertanyaan mengenai Ke-Ilahi-an Yesus dan menggantikannya untuk sementara waktu dengan pokok mengenai kematian Kristus. Ini penting bagi kita untuk memaknai sengsara Yesus dan bagaimana kita sekarang ini mengambil makna dari penderitaan Yesus itu.
Sebagaimana kita tahu bahwa Yesus memprediksikan sendiri tentang kematianNya dan juga menekankan bahwa hal itu sangat penting sekali (Markus 8:31). Mengapa? Mengapa Yesus berpikir bahwa Dia harus mati? Ada beberapa alasan yang Yesus sendiri sampaikan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama: Yesus percaya bahwa kematianNya adalah kehendak BapaNya disorga, jadi Ia memilih untuk taat dan patuh pada kehendak BapaNya. (Yohanes 10:17-18; Markus 14:16). Kedua: Yesus menyakini bahwa adalah panggilanNya sendiri untuk meminum cawan penghukuman Allah, menimpahkan sendiri hukuman Allah didalam diriNya, yang seharusnya dijatuhkan kepada orang Israel dan semua manusia. Markus 10:38; 14:36. Ketiga: Yesus percaya bahwa misiNya sebagai 'anak manusia' adalah untuk melayani bukan untuk dilayani, dan memberi dirinya sebagai tebusan bagi banyak orang. (Markus 10:45). Keempat: Yesus percaya bahwa kematianNya adalah pusat dari rencana Allah untuk mendatangkan keselamatan, dan hanya bisa terjadi kalau tubuhNya dipecahkah dan darahNya ditumpahkan supaya perjanjian baru dapat dirayakan dan dinikmati.
Dari sudut pandang sejarah, orang dapat berdebat bahwa kematian Yesus diakibatkan oleh penindasan bangsa Roma dan pemimpin bangsa Yahudi. Tapi dari sudut pandang Yesus sendiri, Dia bukan korban dari dua penguasa tadi. Sebagai Gembala yang baik, Yesus memilih untuk menyerahkan dirinya bagi kawanan dombaNya (Yohanes 10:15). Yesus berkata: ' tak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri.(Yohanes 10:18).
Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, orang Kristen mula-mula (orang Kristen awal diabad I Masehi), berefleksi atau merenung arti dari kematian Yesus itu. berdasarkan pada apa yang Yesus sendiri
katakan, mereka memahami bahwa kematianNya adalah rencana Allah untuk keselamatan Israel dan juga seluruh dunia.
Kita mempunyai sedikit sekali informasi tentang apa yang orang Kristen mula-mula yakini tentang ajaran Yesus mengenai arti dari kematianNya. Kitab Kisah Para Rasul, menyediakan kepada kita semacam jendela kecil pada periode awal Kekristenan. Dalam Pelajaran Teologi dan juga arkeologi, telah dibuktikan bahwa kitab-kitab paling tua dari Perjanjian baru bukanlah Injil-Injil, tetapi tulisan-tulisan Paulus atau surat-surat Paulus. Dialah yang menulis kesaksian pertama tentang Yesus dan pelayananNya. Beberapa surat Paulus ditulis disekitar tahun 50 Masehi atau hanya 20 tahun sesudah kematian dan Keb8angkitan Yesus. Surat-surat ini berisi tentang tradisi dari orang-orang Kristen yang mula-mula. Dari surat-surat Paulus ini kita dapat mempelajari apa yang
mereka percayai. Salah satu perikop muncul di I Korentus 15. Disitu terdapat pusat atau inti dari keyakinan dari orang percaya mula-mula itu, yang mereka teruskan kepada Paulus dan kemudian kepada orang-orang Korentus.
Di I Korentus 15:3-5 disebutkan disitu bahwa: 'sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita, sesuai dengan kitab suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas muridNya.
Perhatikan apa yang diungkapkan diatas, dimana pernyataan pertama dari pengakuan ini adalah semacam formulasi pengakuan iman yang urusannya adalah tentang kematian Yesus dan makna atau arti kematian Yesus. "Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita sesuai dengan kitab suci".KematianNya bukan sekedar suatu kecelakaan yang fatal atau suatu hasil dari perlawananNya terhadap Romawi dan orang-orang Yahudi. Yesus mati 'karena dosa-dosa kita' dan supaya kita manusia menerima kepastian pengampunan. Jadi kematian Yesus adalah untuk menebus dosa-dosa kita. Dan ini adalah pengakuan paling awal yang diungkapkan oleh orang-orang Kristen mula-mula. Bagaimana mereka tahu bahwa kematian Kristus adalah untuk menebus manusia dari dosa-dosa? Menurut I Korentus 15, mereka mengetahuinya sesuai dengan isi kitab suci, yaitu perjanjian lama yang adalah kitab orang Yahudi, yang ditulis berabad-abad sebelumnya dan yang menunjuk atau menceritakan kematian dan maksud kematian Yesus.
Orang Kristen mula-mula tidak mengada-ada tentang hal ini, mereka mengetahuinya juga dari Yesus sendiri. Selama pelayananNya diatas dunia ini, Ia menghubungkan kematianNya dengan hamba yang menderita dalam Yesaya 53 bahwa hamba Allah menderita untuk menanggung dosa kita.
Sementara itu kematian yang Yesus sebutkan sebelum jumat agung itu dipahami oleh murid-muridnya sebagai hal yang menakutkan. Itulah sebabnya tidak satupun dari muridnya yang tanggap akan hal itu. nanti
setelah paskah, Yesus yang bangkit itu menjelaskan sendiri kepada murid-muridNya tentang bagaimana perjanjian lama menubuatkan pentingnya kematianNya. Jadi dengan mengikuti pola penjelasan Yesus yang meneliti maksud dari kematianNya dalam perjanjian lama, para murid juga mendapati pengertian dan menemukan bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa kita.
I Korentus 15, tidak secara mendetail menjelaskan bagaimana kematian Yesus itu dipahami sebagai penebusan dosa-dosa kita. Ini ada ditempat lain dalam perjanjian baru. Tetapi dalam bahasa yang sederhana dari orang Kristen mula-mula, kita mendengar suatu koneksi yang jelas dan sangat penting antara dosa dan kematian Yesus. Dia mati, tidak saja
diakibatkan oleh dosa manusia tetapi juga supaya dosa manusia itu dapat diampuni. Melalui kematian Yesus, suatu perjanjian yang baru telah hadir, sebagimana ini dinubuatkan oleh nabi Yeremia: 'sesungguhnya akan
datang waktunya, demikian firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan kanan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjianKu itu telah mereka ingkari, meskipun Aku tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah Firman Tuhan. Tetapi beginilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan: Aku akan menaruh tauratkKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKU. (Yeremia 31:31-33).
Dasar pemahaman kita sekarang adalah pengertian dari orang Kristen mula-mula yang menyatakan kematian Yesus adalah untuk dosa-dosa kita sesuai dengan isi kitab-kitab. Diatas fondasi ini orang Kristen mula-mula merefleksikan lebih lanjut arti dari kematian Yesus itu.
PANDANGAN ORANG KRISTEN MULA-MULA TENTANG KEMATIAN YESUS
Pada tulisan yang lalu kita telah melihat satu dari sekian banyak statement orang Kristen mula-mula tentang maksud dari kematian Yesus. Menurut tradisi yang paling tua yang ada dalam I Korentus 15:3 bahwa ‘Yesus mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan isi kitab-kitab’. Tapi ini tidak menjelaskan lebih lanjut cara dimana kematian Kristus itu berhubungan dengan masalah dosa manusia. Karena itu kita harus melihat II Korentus 5:16-21. 'Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilainya demikian. Jadi siapa yang ada didalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasehati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami minta kepadamu; berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita di benarkan oleh Allah'.
Teks ini menjelaskan bahwa hubungan kita dengan Allah di luar Kristus bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Kalau kita tidak ingin didamaikan dengan Allah, ini berarti kita terpisah dari Allah.Dosa telah membuat manusia jauh dan terpisah dari Allah.
Jadi bagaimana Allah menangani dosa kita, supaya kita dapat didamaikan dengan Dia?
Kita dapatkan jawabannya di 2 Korentus 5:21 ‘Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah’. Kapan Allah Bapa memperlakukan Yesus sebagai pendosa? yaitu dikayu salib. Ditinggalkan oleh BapaNya dan masuk merasakan neraka kematian. Hal ini penting, bukan karena Yesus harus melaluinya, tapi supaya manusia tidak mengalami apa yang dialami oleh Yesus.
Didalam kematian Yesus, segala dosa dunia ditanggungNya, kita dibebaskan dari penderiataan yang selama-lamanya, dan diundang masuk dalam keabadianNya. Karena itu kita diajak untuk menjadi cipataan yang baru, didamaikan dengan Allah. Tidak lagi terpisah dengan Allah, tidak lagi menjadi musuh Allah. Melalui kematian Yesus, kita mengalami suatu hubungan yang baru, dan sedang memulai suatu hidup baru dalamciptaanNya yang baru pula. Mungkin, salah satu hal menarik dari orang Kristen mula-mula dalam menafsir kayu salib adalah hubungan salib itu dengan kasih. Sangat mudah sekali bagi kita sekarang ini disaat menggumakan simbol salib sebagi simbol kasih, symbol yang atraktif, atau hiasan yang trendy yang mengasosiasikan salib dengan kasih. Tapi diabad pertama, penyaliban adalah sesuatu yang jauh sekali dari makna kasih, sebagimana yang kita mengerti sekarang. I Korentus 1:18-25 menjelaskan tentang salib yang keji dan bengis bikinan Romawi itu. tapi inilah yang digunakan oleh orang Kristen mula-mula untuk menjelaskan kasih Allah itu. Rasul Paulus mulanya adalah seorang penghasut tentang salib dan kasih itu. di Roma 5:6-8, dia menulis: 'karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah, sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar-tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Jadi kita sebenarnya terpisah dari Allah, musuh Allah pada mulanya, tapi karena pengorbanan Kristus, maka salib telah menjadi demonstrasi yang mengagumkan tentang kasih Allah didalam Yesus Kristus itu. Karena itu salib bukan hanya sekedar simbol, tetapi adalah tindakan kasih. Dengan mati diatas kayu salib, Yesus tidak saja menunjukkan kasih Allah itu, tetapi melakukan dan bertindak demi kasih Allah itu dan ditujukan kepada manusia berdosa,yang seharusnya mati selama-lamanya, tanpa pengharapan hidup kekal. Kalau seseorang sedang tenggelam disuatu danau lalu ada temannya yang ingin menyelamatkan dia, maka temannya itu tidak sekedar mengucapkan bahwa 'aku mengasihimu', tentu ini tidak akan memberi perubahan apa-apa selain temannya itu melemparkan tali kepada yang sedang tenggelam itu, disinilah kasih benar-benar terwujud. Jadi sekali lagi dengan mati diatas kayu salib, Yesus tidak saja memperlihatkan kasih Allah itu tapi Ia mendemonstrasikannya untuk manusia.
Salib adalah salah satu simbol kasih yang mulanya mengerikan, tempat atau alat untuk menghukum orang, alat untuk membunuh orang kini dipahami sebagai symbol kasih Allah. Tidakkah ini suatu hal yang mengagumkan? Untuk mengerti ini, kita harus memahami kekudusan Allah dan keberdosaan manusia. Hanya dengan begitu kita dapat menangkap simbol salib sebagai tindakan dan tanda dari kasih itu. hanya dalam terang kebenaran Alkitab kita akan menangkap makna sesungguhnya tentang fakta bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan isi kitab-kitab. Banyak orang jaman ini melihat kematian Yesus itu diakibatkan oleh kuasa Romawi, bahwa merekahlah yang membunuh Yesus, bahwa Yesus menantang politikal power pada waktu itu sehingga Ia mati. Jawaban ini tidak selengkapnya benar, secara teologis atau menurut Alkitab, Yesus mati untuk dosa-dosa kita, sesuai dengan nubuatan Alkitab demi keselamatan manusia. Dengan memahami semua ini, kiranya saudara-saudara boleh mendapatkan sesuatu yang baru dalam hidup saudara. Lebih mengenal dan mengasihi Yesus, bertindak sesuai dengan apa yang Ia tindakkan. Merenungi pengorbanan Yesus, kiranya memberi kepada saudara suatu inspirasi baru tentang maksud dan tujuan kehadiran kita diatas bumi ini. Kita adalah orang-orang yang seharusnya mati tanpa harapan kebangkitan masa depan, tapi tindakan Yesus telah merobah dan memporak-porandakan pemahaman itu. Ia menawarkan kehidupan yang baru bagi kita, supaya kita juga dapat menawarkan itu kepada orang lain yang belum percaya. Dibutuhkan keberanian dan kasih Allah untuk melakukan itu. Dan semoga kekuatan dan keberanian akan dilimpahkan kepada saudara sekalian untuk dapat melaksanakan simbol salib yang adalah kasih itu. Amin.